Arsiy

Arsiy

Follow

Senin, 10 Mei 2010

Tokek Jadi Obat, Belum Terbukti Khasiatnya

Saat ini di Kota Medan sedang ramai-ramainya membahas tokek. Ada yang mempercayai binatang reptil ini jadi berkah bagi pemiliknya. Teranyar, hewan seperti bunglon atau cecak ini disebut-sebut bisa menyembuhkan pasien HIV/AIDS.
Wau, kalau ini benar, maka para pasien HIV/AIDS yang kita ketahui hingga saat ini belum ada obatnya bisa sembuh. Bagi orang yang mempercayainya, hewan berukuran kecil ini harganya juga bervariasi karena tergantung ukurannya. Bisa harganya mencapai Rp 50 juta. Kalau memang bisa jadi obat (apalagi HIV/AIDS), tentunya berapa pun harganya akan tetap dibeli.
Sayangnya, khasiat binatang berbadan mungil ini belum terbukti. Sebab, hingga saat ini belum pernah dilakukan pengujian dan dibuktikan oleh penelitian kesehatan. Tapi, masyarakat Indonesia dan Asia pada umumnya masih mempercayai pengobatan secara tradisional yang menggunakan obat berasal dari tumbuhan, bebatuan dan hewan.
“Sistem pengobatan di Indonesia masih menjalankan pengobatan secara tradisional, walaupun belum ada pembuktiannya secara penelitian. Tapi ini memang sejak lama sudah ada dan dijadikan secara turun-temurun,” ujar Kepala Dinas Kesehatan Kota Medan, dr Umar Zein, di ruang kerjanya, menanggapi banyaknya bisnis penjualan tokek yang dipercaya bisa menyembuhkan pasien HIV/AIDS, Senin (16/2).
Umar menjelaskan, pengobatan tradisional dengan tumbuhan sudah banyak diteliti dan hasilnya memang berkhasiat. Bahkan sekitar 90 macam tanaman sudah didaftar oleh Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) untuk boleh dikonsumsi.
Sedangkan untuk pengobatan tradisional dengan hewan, saat ini belum ada dilakukan penelitian baik khasiat dan efek samping dari penggunaan obat dari hewan-hewan yang dipercaya dapat menyembuhkan berbagai penyakit.
“Nenek moyang kita memang pernah merasakan khasiatnya, seperti cacing yang digonseng katanya dapat menyembuhkan asma dan ini berkembang dari mulut ke mulut hingga tersebar dan dipercaya oleh masyarakat. Tapi kita kan belum tahu apakah tidak ada efek sampingnya kelak, inilah yang harus diuji dulu,” jelasnya.
Di Sumut sendiri, ungkap Umar, sudah ada Sentra Pengembangan Penelitian Pengobatan Tradisional (SP3T). Namun, saat ini belum ada melakukan penelitian pengobatan menggunakan hewan.
“Kita harapkan mereka nantinya ada yang meneliti itu, agar khasiat dan efek sampingnya bila dikonsumsi diketahui oleh masyarakat. Memang ilmu kedokteran itu kan awalnya berasal dari obat-obatan tradisonal,” imbuhnya.
Umar menegaskan, sedangkan untuk tokek yang disebut-sebut bisa menyembuhkan pasien HIV/AIDS, belum ada dasarnya jika memang benar-benar berkhasiat. Tapi, jika ada beberapa pasien HIV/AIDS yang bisa sembuh atau menurunkan CD4-nya karena minum atau makan daging tokek tersebut, mungkin ini bisa dijadikan rekomendasi atau pilihan lain sebagai obat yang berkhasiat.

sumber : http://www.dimanado.com/tokek-jadi-obat-belum-terbukti-khasiatnya/

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar